Minggu, 29 Mei 2016

Jual Pemutih Wajah Terbukti Aman, Cepat, Tanpa Efek Samping, Terdaftar di BPOM, Menkes


Ayupria

“Krim pemutih wajah terbukti aman,”
“terdaftar di bpom, terdaftar di menkes”
“Tanpa efek samping, “
“harga murah, terbukti mencerahkan dalam x hari”
“sudah banyak testimoninya : makasih ya sis, krimnya bagus bla bla bla..”
“ada foto before and afternya”

PADAHAL
Foto yang satu asli, satunya editan
Satunya di cahaya redup, satunya di cahaya terang
Punya temen muka putih mulus, dipinjem buat model
Punya temen yang punya fasilitas chat online ngomongnya : “guys, chat gue donk, pura-puranya lu tulis testimoni yang bagus tentang jualan gue. Ntar gue capture trus gue upload di dagangan gue, biar laris dan banyak yang percaya
Muka yang putih cuma wajah doank, kaya topeng, masih aja bilang aman. Setelah jangka panjang dan mukanya rusak, baru deh pada nyesel sel sel seeellll banget. Itu kalau bukan efek samping namanya apa? Efek putih yah?
Kulit wanita indonesia rata-rata berwarna sawo matang dan kuning langsat, kalau mau dirubah jadi ala bintang korea, mustahil gaes, kecuali kalian operasi plastik dan perawatan kelas atas.



Omaigat, hari gini kok ya masiiiihhh ada aja yang percaya. Well, tapi emmang begitu kenyataannya. Masih ada banyak wanita yang TERTIPU dengan pemutih wajah seperti ini. Dan tak henti-hentinya juga saya mengingatkan bahwa jangan pernah percaya. Hanya gunakan kosmetik yang memang kita tahu itu aman, belilah di tempat yang aman, cek produsennya, cek isi kandungannya, cek ijinnya. Kalau Cuma mengandalkan nama dokter XYZ, siapa yang tahu dokter XYZ itu siapa? Dia dokter beneran atau gadungan.

Dan buat para online shop penjual beginian, stop mencari nafkah dengan mengorbankan orang lain. Jika suatu saat mereka terkena efek buruknya dan tidak terima karena merasa tertipu dengan iming-iming kalian. Siap-siap saja pertanggungjawabkan di akhirat nanti. Dan satu lagi, uang yang tidak halal itu tidak akan menjadi berkah dalam kehidupan.
Sekian dari saya yang gregetan sekaligus kasihan dengan mereka yang tertipu namun tidak merasa tertipu.


Mengatasi Ketergantungan Krim Dokter dan Krim Pemutih dengan Cepat

Tips Cara Cepat Melepas Ketergantungan Krim Dokter dan Krim Pemutih Wajah

By : Ayupria

Dear wanita-wanita cantik indonesia,

Artikel ini saya tulis untuk menjawab banyaknya pertanyaan yang masuk ke email maupun ke blog saya mengenai cara melepaskan krim dokter atau krim-krim abal-abal di pasaran.
Saya sungguh miris melihat banyak wanita yang membeli krim yang katanya krim dokter melalui online shop, bisa mencerahkan dalam sekejap serta iming-iming di dalamnya. Atau yang lebih parah lagi, ada yang nekat membeli krim racikan dari china, krim pemutih wajah terdaftar di bpom, apalah apalah dan apalah. Hasilnya, kulit wajah putih namun leher atau tangan coklat, belang donk. Guys, krim yang begitu itu racun. RACUN. Sebenarnya hati kecil kalian sudah tahu jika itu salah, namun demi penampilan instant, kalian mengabaikan itu.

Di sisi lain, mereka yang agak beruntung adalah mereka yang melakukan perawatan ke dokter dan menggunakan krim racikan dari klinik kecantikan. Sebenarnya tidak akan ada masalah jika mereka rutin melakukan perawatan. Namun, bagi yang akan menghentikannya, siap-siaplah menghadapi masalah kulit baru yang lebih parah. Hal ini dikarenakan kulit terbiasa mendapatkan nutrisi dosis tinggi dari racikan kimia, maka akan sulit untuk beradaptasi kembali ke kondisi awal. Sulit bukan tidak mungkin ya guys, masih banyak cara untuk emngembalikannya. Yang kita perlukan hanya kesabaran.

Namun bagi yang sudah terlanjur dan sudah tidak sabar untuk berhenti, tips singkat ini dapat digunakan untuk membuat kulit kita beradaptasi kembali dengan kondisi normalnya. Hasilnya lebih cepat daripada yang pernah saya tulis sebelumnya, namun untuk tips kali ini agak sedikit merogoh kocek ya.
  1.     Poin pertama, buang segala macam kosmetik ga jelas milik kalian. Niatkan untuk move on dari krim-krim tersebut.Gunakan pembersih wajah dan pencuci wajah yang bebas alkohol, bebas sabun, bebas pewangi, bebas pewarna, lebih bagus lagi jika yang bisa menyeimbangkan PH. Pilihan saya adalah Cetaphil. Bisa didapatkan di apotik dan toko kosmetik seperti Watson, Apotik Century, Apotik Guardian, hero.  Gunakan untuk membersihkan wajah seperti biasa. Notes, pembersih ini sekaligus melembabkan, bisa dibersihkan dengan kapas dan air. Bagi yang wajahnya berjerawat kecil-kecil (tidak ada isinya), gunakan cetaphil sebelum tidur dan tidak usah pakai krim malam lagi. Jika tidak ada cethapil, bisa diganti dengan sabun bayi cair.
  2. Pilih Pelembab yang isinya sama seperti di atas, yang bebas pewangi, bebas pewarna, dan non comedogenic.  Pilihan saya jatuh ke Redwin sorbolene moisturiser, pilih yang kemasannya tube, bisa di dapat di apotik century, apotik guardian, watson, carefour, hypermart, lottemart, hero. Bagi yang jerawatnya besar-besar dan bernanah (ada isinya), pencet jerawat, keluarkan isinya sampai dengan darah kotornya, lalu kompres dengan alkohol 70%/90%. Hal ini untuk mencegah infeksi dan agar jerawat tidak berbekas. Kemudian, setelah bekas jerawat mengering, bersihkan wajah seperti biasa, dan oleskan redwin pada wajah. Perbanyak area yang berjerawat terutama pada malam hari, dan lihat hasilnya pada pagi harinya.
  3.  Hindari kosmetik keras selama masa penyembuhan kulit. Jika ingin menggunakan bedak, better gunakan bedak bayi tabur terlebih dahulu.
  4.  Rajin-rajinlah melumuri wajah dengan minyak zaitun extra virgin (Extra Virgin Olive Oil / EVOO). EVOO ini bisa didapatkan di supermarket di bagian minyak goreng. Usahakan pilih yang botolnya gelap yah guys, supaya isi di dalamnya tidak rusak terkena cahaya. Sore hari setelah mandi, setelah wajah dibersihkan, kompres dengan lap hangat kemudian oleskan EVOO, diamkan selama 30menit hingga 1 jam. Setelah itu, gosokkan tangan agar tercipta sensai panas di telapak tangan, kemudian usapkan pada wajah sambil dipijat. Lakukan berulang kali hingga wajah terasa berkeringat. Jika dirasa sudah cukup, bersihkan minyak zaitun dengan lap hangat untuk mengangkat sisa minyak dan bilas dengan air dingin untuk menutup pori.
  5.  Kulit yang sehat, tercipta dari kondisi badan yang sehat pula. Cukup tidur 7jam setiap malam (tanpa bangun), perbanyak minum air putih, kurangi konsumsi gula, perbanyak makan sayur dan buah, serta madu akan membantu kulit terlihat segar bukan hanya wajah, melainkan seluruh tubuh.
  6.  Perbanyak senyum. Manage stres.

Nah, setelah kulit kembali normal, silahkan gunakan kosmetik pilihan masing-masing. Plis jangan balik lagi ke krim-krim ol shop yang menawarkan iming-iming menjadi putih. Setiap manusia memiliki warna pigmen melanin masing-masing. Kuliat sawo matang tidak akan bisa menjadi kulit artis korea atau kulit wanita jepang. Kecuali, jika kulitnya dikupas. Yap, dikupas oleh krim tak bertanggung jawab yang mengatasnamakan bpom menkes dan sebagainya. Jika kulit terkelupas, tidak ada lagi pelindung kulit bagian dalamnya, jika terpapar sinar matahari, lama kelamaan akan menyebabkan kanker. Atau efek yang biasa terjadi adalah kulit menjadi merah, iritasi dan muncul; bintik-bintik hitam.
Cintai dirimu apa adanya yah..


Salam,


Ayupria



pict : http://www.lorensworld.com/wp-content/uploads/2013/01/enhancing-skin-complexion.jpg

Rabu, 07 Oktober 2015

Dear Mr. New


By : Ayupria


Dear Mr. New

Yang tidak selesai bukan berarti harus kembali dimulai.
Saatnya membuka lembaran baru.

Selamat datang di kehidupanku Mr. New. Mulai saat ini aku akan menghidupkanmu dalam setiap tulisanku.  Kamu akan menjadi subjekku, subjek dalam setiap nafas dari tarikan penaku, jangan tanya kapan aku akan lelah, karena itu tak akan. Entah kamu melihatku atau tidak, aku tak akan pernah menyerah. Hanya dengan mengingat namamu, aku bisa mencipta ribuan kata cinta. Sebatas Itulah. Karena dalam nyata, aku berusaha untuk lupa.
 

Minggu, 24 Mei 2015

Anonymous asked


Entahlah, aku sudah terlalu tua, aku lelah meladeni perdebatan denganmu. Mungkin tubuh dan fikiran ini hanya perlu tempat untuk bersandar, beristirahat sejenak untuk kembali meneruskan perjalanan. 

Kau selalu memancing emosiku, tapi sebaliknya kau selalu lebih dulu marah sebelum aku sempat marah. Lampiaskan marahmu, biarkan aku meredam amarahku sendiri. Kau selalu memintaku untuk mengungkapkan apa yang kurasakan, tapi saat itu juga ketika kuungkapkan, kau tangkis dengan segala macam alasan, seakan perasaanku ini tak penting. Ketika aku marah, kau justru menganggapku mendramatisir keadaan, baiklah mungkin diam memang lebih pas untuk menghadapimu karena aku sudah bingung harus bagaimana.
Ketika kubaca percakapanmu dengan dia, aku tahu, kamu masih seperti dulu. Dengan dia kamu bisa menunjukkan perhatianmu,
“Ada apa, pasti ada apa-apa sama kamu.”
Padaku, ketika aku marah, kamu pura-pura tak tahu. Justru sebisa mungkin kamu yang berganti posisi menjadi marah padaku. Padanya kata-katamu begitu lunak, padaku kata-katamu sekenanya. Padanya, kamu begitu antusias mendengarkan dan meresponnya, padaku, jangan tanyakan lagi. Ketika aku girang atau sedih meluapkan perasaanku, cibiran darimu yang kudapat. Ketika dia yang melakukannya, kau antusias menunggu cerita selanjutnya.
Maka ketika aku menuntut hal serupa, kau akan mengungkit masa laluku. Bukankah kita sudah berjanji tidak akan melakukannya lagi? Membuka lembaran baru? Ah mungkin janji hanya sebatas permen loli di pasar pagi. Sebenarnya, apa aku masih menjadi seorang wanita? Jika aku wanita, mengapa aku tidak boleh sama dengan dia?

“Mungkin kau tak perlu banyak berpikir tentang cinta. Kau terpelajar, cobalah bersetia pada kata hati. Jika hatinya terbuat dari batu, maka jadilah kesabaran dari air yang menetes kepadamu. “

Minggu, 26 April 2015

Senja . . .


Namanya Senja. Penampilannya senantiasa hangat, ceria, dan memikat. Meski dia sedikit rapuh dan juga perasa. Membalut setiap kesedihan dengan senyuman hangat adalah keahlian terbaiknya. Setiap orang akan merasa nyaman bersamanya; entah ketika hujan sedang turun, ataupun ketika mentari terik yang menyengat perlahan minggat bersama kehadirannya yang singkat. Senja tahu, bagi sebagian mereka kehadirannya adalah helaan napas panjang setelah kelelahan yang mendera. Kehadirannya adalah sebuah kata pulang bagi setiap perjalanan. Sayangnya, Senja tidak bisa mencintai dirinya sendiri dengan baik seperti halnya mereka yang memujanya. Senja selalu saja merasa ketakutan pada matahari yang pergi di ujung hari, pada suasana gelap yang menjelang, dan pada kesunyian yang menemani rehatnya waktu. 

Hingga suatu ketika Senja mengenal Awan. Awan begitu mengagumi keindahan rembulan, dan tentu saja dia mencintai Senja yang menjelang, dan malam gelap yang datang. Awan tahu cara mencintai dirinya sendiri dengan baik. Dia bahkan tidak pernah lupa menggenggam Senja ketika ujung hari benar-benar tiba dan ketakutan pada diri Senja kembali mendera. Awan juga mengajarkan Senja cara untuk mencintai hujan. Awan kerap kali membuat Senja tersenyum bahagia dengan menurunkan ribuan kubik hujan sepanjang hari. Senja mulai belajar mencintai dirinya sendiri, dan tentu saja; Awan.

Senja & Awan. Sebuah episode panjang yang penuh dengan impian. Ada cinta Senja di sana. Ada kesejukan Awan di dalamnya. Malam, rembulan, bintang, hujan, bahkan mentari pun terpaut di dalam kisah perjalanan syahdu Senja dan Awan. Meski terkadang angin menerpa terlampau kencang untuk melukai Senja dan Awan, mereka tetap bertahan.

Lalu sebuah hari yang kelam datang. Senja jatuh dan terluka. Seperti itulah Senja; dia bisa saja nampak hangat dan kuat, meski sebenarnya dia begitu rapuh dan perasa. Hari itu entah mengapa Awan tidak ada di sekitarnya. Senja merasa begitu takut dan payah. Dia tertatih mencoba bertahan. Ketakutannya pada ujung hari tiba-tiba saja kembali dan merasuki ruas-ruas perasaannya. Dia hanya bisa merasakan kebekuan, perih, dan keletihan yang sangat. Senja tahu Awan selalu melihatnya, meski tidak menopangnya.

Senja penuh dengan luka. Namun ia masih mencoba berjalan, bahkan berlari. Ia tahu Awan selalu melihatnya, meski tidak menopangnya. Itu cukup buat Senja. Sungguh, itu cukup buat Senja. Sampai suatu ketika, Senja tak lagi sanggup berjalan terlalu cepat dan Awan menghilang ditelan gelap. Di tengah keputusasaan dan perih di setiapnya; tiba-tiba hujan turun dengan lebat. Mengguyur Senja dengan begitu keras. Senja suka hujan. Tapi kali ini hujannya terlampau deras. Senja tertatih payah karena luka yang kian menganga dan terasa begitu perih. Di sudut ketakutannya, Senja hanya bisa bertanya dalam hati; mengapa Awan justru menurunkan hujan untuk melukainya? Bukankah selama ini Awan yang mengajarkannya cara untuk bahagia?


Senja hanya diam. Dan untuk pertama kalinya Senja begitu ketakutan pada hujan. Senja ingin sekali menangis. Sayangnya, Senja hanya diciptakan untuk menghadirkan kehangatan dan bukan melampiaskan kesedihan. Maka semenjak hari itu, Senja selalu menangkupkan kedua lengannya dan tertidur di sebuah sudut gelap ketika bumi telah terlelap; untuk kemudian menangis sesenggukan di dalam tidurnya yang resah. nik salsabila

Minggu, 23 November 2014

Hujan di Penghujung Hari

By : Ayupria



          Cinta memang persoalan abstrak yang tak dapat digambarkan, tak dapat pula diterawang apalagi dipelajari. Cinta adalah makhluk absurd paling fenomenal dalam kehidupan manusia, entah seperti apa rupanya, yang jelas dia dengan gampangnya membuat manusia hilang logika. Membalik hati menjadi bengkak, otak tak bergerak dan membuat mati sendi-sendi. Andai saja dapat kulihat rupanya, minimal dapat kuraba keberadaannya, pastilah sudah kutampar habis-habisan. Bagaimana mungkin dia bisa membutakanku, sedangkan aku sedang menatap tajam? Ah sudahlah, mengumpat pun bukan hal yang lumrah untuk dilakukan. Seperti orang gila yang baru saja keluar rumah sakit jiwa, dengan segenggam obat di tangannya, Gila!!!
Dan ternyata kamu penyebabnya, iya kamu. Kamu yang membuatku gila Ki. Kamu yang sudah membiarkan pikiranku menerawang jauh. Bahkan aku tak tahu dimana ujungnya ini akan ku akhiri. Sejenak aku berpikir, apakah ini pantas aku rasakan, apakah ini pantas untuk kita lakukan? Pertanyaan-pertanyaan ini seringkali menghantuiku, terlebih sesaat setelah aku selesai bercanda denganmu, berbagai pertanyaan mengambil giliran mencercaku. Apakah aku sadar dengan apa yang aku lakukan?

“Kling..”
“Ta, aku deg-deg an nih”
“kenapa Ki?”
“Besok aku ujian Ta, rada nervous nih, bisa ga ya ngerjainnya”
“bisa..bisaa..aku yakin kamu bisa, semangat donk Ki, berdoa, ntar aku doain spesial ga pake telor buat kamu deh”
“Eh dipikir ini badan kaya telor?”
“Ya abis mirip sih, beda-beda tipis, sama-sama bulet, hahahaha”
“Ki, aku ga bisa tidur nih, gara-gara kamu aku insomnia kan, tanggung jawab”
“Ish..ish..terlalu cepat menyimpulkan”
“Ta..Tata..”
“Katanya insomnia kok nyaringnya udah sampe sini..”
 
***
“Eh..maap Kiki, tadi malem aku udah pules, hehehehe..”
“Udah tahu, udah biasa, aku kan pengantar tidurmu”
“Sory deh Ki, bukan maksud hati, tapiiiii… hahahaha peace deh”

          Pagi ini, selalu istimewa seperti pagi-pagi sebelumnya. Selalu cair manakala kabarmu sudah kudengar. Meski hanya sebatas ini, namun aku tahu kamu pasti merasakan hal yang sama denganku. Aku nyaman denganmu Ki, kamu mengubah hidupku yang hambar menjadi manis, dengan sejumput perasaan yang kamu tebarkan di sudut-sudut hati.  Aku ingin teriak, berkoar kencang ke setiap penjuru jiwa. Bertandang ramah ke hatimu, mengetuknya berharap kau membukanya. Ah sudahlah Ki, sepertinya sarafku memang sedang tegang, lupakan kata-kataku barusan.

“Ta..aku pengen curhat nih, tapi jangan ceritain ke siapa-siapa ya Ta..”
“Alah, sok-sok an banget sih pake rahasia-rahasian Ki, udah kaya sinetron aja kamu nih”
“Beneran Ta, soalnya dia udah ada yang punya. Aku Cuma pengen cerita aja”
“Emang  tentang apa sih, dan tentang siapa sih Ki”
“Adalah Ta, kamu nih kepo banget ya, dengerin aja napa”
“Yaudah, buruan cerita ga pake bersambung yah, males dengerinnya”
“Iya Ki, jadi gini aku lagi kasmaran berat  sama cewek , tapi gimana ya Ta, dia udah ada yang punya.”
“Alah cemen kamu Ki, yang namanya cowok itu mesti gentle, selama janur kuning belum melengkung itu milik bersama, siapa aja boleh dapetin dia. Saranku sih, kalo kamu emang niat baik sama itu cewek, kamu tata masa depanmu, sama seperti dia menata dirinya, nanti waktunya kamu siap, katakan. Diterima ga diterima urusan belakangan. Yang penting kamu ga mati penasaran”
“Hm, gitu ya Ta.”
“Iyalah Ki, menurutku sih. Soalnya kadang cewek itu terbelenggu sama hubungan, mau mutusin ga enak, ga diputusin cowoknya ga pengertian. Sapa tahu dia justru sreg sama kamu, dan nunggu kamu ungkapin perasaanmu pada waktu yang tepat.”

     Deg… Jantungku serasa berhenti seketika, pecah berkeping-keping tak terhitung jumlahnya. Kepingannya meluruh mencapai sendi-sendi, membuat badanku lemas dengan ratusan tulang yang mendadak ingin lepas. Aku hanya bisa diam, menangis pun aku lupa bagaimana caranya. Aku kembali terdiam, mencoba mencerna makna di setiap perkataanmu Ki. Menjadi pendengar yang baik atas apa yang kau sampaikan. Semilir angin berhembus menerpa daun, rantingnya yang lemah terpaksa luruh bersama luruhnya seluruh sendi-sendiku terkena pecahan jantungku.  Ternyata perasaan ini hanya aku yang merasakan. Hanya euforia sesaat yang kemudian hancur ketika kau mengatakan jika kau telah mencintai seseorang.
      Sialnya aku telah berjanji pada diriku untuk menjadi teman yang baik untukmu, penghiburmu, penyemangatmu, hingga aku pun tak dapat lari dari kenyataan ini. Aku harus tetap terlihat santai dan seakan mendukungmu dengan seseorang itu, meskipun rasanya sangat sesak disini. Aku tetap ingin yang terbaik untukmu, meskipun kau tak tahu, tapi aku yakin suatu saat nanti kau akan tahu. Perlahan tapi pasti aku harus melepaskan perasaan ini, sudahlah, aku sudah cukup dewasa melakukannya.
***
“Gimana Ki, tesnya? Lancar?”
“Yah begitulah Ta, aku pasrah aja, doakan ya Ta. Aku mau yang terbaik buat dia nanti.”
“Emang kalo dia besok lagi kosong kamu yakin bakal diterima Ki?”
“Yakin aja deh, optimis Ta”
“Dengan badan telur rebus kek gitu? Becanda kali Ki?”
“Lha emang kenapa?”
“Em, mungkin perlu perbaikan sedikit, kamu kalo kurusan dikit ganteng banget lho Ki, dan yang jelas lebih sehat, emang kamu mau nanti waktunya kamu menghabiskan hidup sama dia kamu justru ga bisa menikmati kebersamaan kalian karena sakit?”
“Ya ga mau sih Ta, aku juga udah berusaha tapi gagal mulu nih”
“Sini Ibu dokter ajarin, sapa tau tips yang dari aku yang tokcer”

            Duh, beruntungnya wanita itu Ki, andai dia tahu seberapa keras kamu berjuang untuknya. Dan tetiba aku pun ingat, aku ingin memastikan Kiki berhasil mendapatkan wanita pujaannya, maka sedikit saran kuberikan untuknya, minimal untuk menambah daya tariknya. Bukankah bukti rasa sayang yang paling konkret adalah melihat orang yang kita sayangi dan kemudian berhasil. Begitu pun aku, aku akan kecewa ketika kamu kecewa Ki, aku akan menjadi orang pertama yang sedih jika kamu terpuruk.
            Aku memang munafik Ki, tapi tolong jangan sebut aku munafik. Karena perasaan ini sungguh bukan aku yang meminta, tapi Tuhan beri. Aku bukan seseorang yang berani menyatakan perasaanku, aku selalu takut mengakui. Aku menyukaimu, namun waktu tak membiarkan kita untuk bersatu. Mengertilah Ta, mungkin pada kehidupan selanjutnya atau selanjutnya lagi. Aku tak berjanji namun aku sedikit lega jika kau mau mengerti.
           Dan masih seperti biasanya, kau membuat kemunafikanku semakin menjadi. Kau keluarkan semua ocehan gilamu, yang romantisnya mengalahkan pangeran berkuda putih dalam mimpi. Aku tersengat dahsyat, setiap kali kamu memujiku. Tanpa kau tahu Ki, aku selalu tersenyum setiap kali kau katakan itu. Berharap lagi dan terus kau ulangi lagi. Aku yakin ada candu yang mencanduiku ketika kau mengatakannya.

“Ta, itu beneran kamu”
“Apanya yang beneran aku Ki?”
“Ya itu fotomu, kok tumben cantik banget”
“Plis deh, emang biasanya?”
“Biasanya juga cantik sih, cumaaaa…”
“Cuma apa Ki? Wah perasaanku mendadak ga enak nih, pasti mau ngatain nih hawa-hawanya”
“Eh beneran, emang kamu aslinya manis kok Ta. Kalau diliat-liat kamu emang manis,sayangnya…”
“Sayangnya apa?”
“Sayangnya ga ada yang ngeliatin, hahahaha..”
“Ah kampret kamu Ki”

         Aku tahu dan aku sadar, tidak semestinya aku merawat bibit euforia ini. Aku harus kembali sadar terhadap kenyataan. Tapi ini sudah terlalu jauh, bahkan aku mungkin telah lupa jalan pulang, aku tersesat Ki. Kembali ku tatap lekat-lekat diriku dalam cermin, dalam sekejap aku diliputi rasa bersalah sekaligus senang bukan kepalang. Bertanya pada diri sendiri bagaimana ini bisa terjadi. Huft, otak ini sepertinya memang sudah tidak berjalan, mungkin lusa harus kubedah supaya aku bisa mengeluarkanmu dari otakku.
***
              Minggu pagi ini rupanya menjadi momen spesial untukku, seharusnya sih. Hanya saja mungkin tidak untuk minggu ini. Sebulan sekali atau bahkan terkadang tiga bulan sekali Firdi mengunjungiku. Kadang aku kesal dengannya, menuntut hak ku untuk diperlakukan sebagai kekasih secara wajar saja tak bisa. Sinyal selalu menjadi alasan kenapa dia baru bisa menghubungiku sebulan sekali ketika dia ke kota. Bayanganku justru lebih mengenaskan, mungkinkah dia disana hidup primitif dengan suku pedalaman yang hanya pake koteka kemana-mana. Dan hari ini tiba-tiba Firdi sudah mejeng di teras rumah, tanpa kabar terlebih dulu. Bener-bener jailangkung, datang tak diundang, ga ngerti juga datangnya kapan, pulang pun tak diantar.

“Cinta lagi apa?” tanya Firdi.
“lagi ga jelas nih” jawabku singkat
“Ga jelas kenapa?”
“Ya ga jelas nungguin kamu.” Sentakku kesal.
“Cinta kok aneh sih?”
“Yang aneh itu kamu Fir.”
“Aneh kenapa sih” tanya Firdi penuh selidik
“Iya aneh, soalnya udah kaya jailangkung, ga ngerti kabarnya gimana, tahu-tahu nongol depan pintu, untung receh dirumah abis, kalo ga mungkin udah tak kasih receh biar cepet-cepet pergi.”
“Hm, kok gitu sih. Aku kan udah bilang kalau disana sinyal susah, harus ke kota.”
“Kamu yang aneh Fir, emang ga ada pekerjaan lain apa? Sampe kamu bela-belain disitu, kamu naksir sama cewek primitif? Emang disini udah ga ada tempat yang mau nampung kamu ya? Aku punya pacar tapi ga ngerasa punya pacar tahu gak”
“Iyadeh, perakitannya masih beberapa tahun lagi soalnya, aku harus fokus Ta.”
“Yaudah makan tuh roket jadi-jadianmu, jangan salahin aku tapi ya kalau nanti aku naksir orang disini.”
“Jangan gitu dong Ta, kamu kan tahu aku ngidam ini sejak dulu. Kenapa aku pilih tempat terpencil karena biar ga banyak orang yang tahu, nanti waktunya ku tunjukkin ke dunia kan bisa heboh, kamu juga ikut tenar Ta”
“Aku ga ngerti deh sama jalan fikirmu Fir, kamu terlalu larut dalam duniamu sendiri, bahkan mungkin sudah ga ada tempat di hatimu buat namaku. Apa iya besok kalau kita nikah bakal kaya gini terus?”
“Kamu ini kenapa sih Ta, ga biasanya kaya gini, biasanya kamu ga pernah komplain sama proyekku.”
“Iyadeh Ta. Aku benar-benar minta maaf, kita baikan yuk. “
               
          Perasaan bersalah mulai merayapi tubuhku, beranjak dari ujung kaki berakhir tepat di ujung kepalaku. Memaksaku berpikir kembali, apakah aku terlalu keras bicara dengan Firdi? Dia memang selama ini selalu sibuk dengan dunianya, tapi toh dia tak pernah komplain dengan duniaku juga. Tapi bukankah cinta itu menuntut? Aku semakin sangsi dengan hubunganku, ini cinta atau hanya sekedar hubungan kebiasaan? Hubungan kami hambar, tak ada naik tak ada turun, tapi datar setiap waktu. Namun begitu, tak sepantasnya aku membiarkan hatiku terisi nama lain bukan?
          Semakin hari semakin bertambah rasa bersalahku ketika aku merasakan kenikmatan dan kenyamanan yang tak seharusnya dari Kiki. Meskipun aku tahu itu hanya perasaanku saja, aku yakin Kiki tak bermaksud melakukannya. Itu hanya karena dia tidak tahu tentang perasaanku. Andai saja dia mengetahui bibit-bibit cinta ini, pastilah dia akan mundur teratur. Aku? Jelas tak ingin itu terjadi, tapi sampai kapan ini akan terjadi?

Bersambung…

Selasa, 11 November 2014

Menunggu Negeriku Membusuk !!!



Ayupria
Hujan pagi ini, benar-benar mengantarkan sebuah kabar kesedihan. Bersamanya, berita dari seberang datang ke pekarangan.Mengetuk tiap-tiap pintu nurani untuk sedia membuka hati, mempersilahkannya singgah untuk beberapa saat menyadarkan setiap jiwa yang tertidur. Aku menyambutnya, mendengarkan keluh kesahnya. Tentang negri yang tak lagi asri, porak poranda oleh mereka yang berkuasa. Tak ada lagi semilir angin kebahagiaan untuk orang-orang. Kebahagiaan serta keceriaan itu seakan meredup seiring tahun berganti, semakin buruk manakala mereka tak lagi dapat merasakan apalagi mendengar.

Tuhan, kenapa negriku seperti ini?
Aku meracau dalam tidur, aku mendendam dalam diam, dan aku mengumpat kala sempat. Semuanya seakan aku tak mengenalinya. Dimana jiwa-jiwa yang rajin itu, jiwa cerdas dengan etos kerja yang kuat. Dimana sesepuhku, leluhurku saat ini? Bisakah mereka kembali dan mengajarkan kepada anak cucunya tentang arti sebuah kekuatan? Keberanian?

Hiruk pikuk negri dengan segala gemerlapnya, gaya hidup, sekulerisme, kapitalisme..
Aku geram, geram sekali. Seakan ingin kumaki setiap penerus bangsa yang malas, yang banyak bicara tapi omong kosong. Seharusnya mereka akan lebih mudah hidup dalam dunia saat ini dibandingkan dengan seribu tahun yang lalu, namun kenyataannya, mereka justru menjadi keset wc di negeri sendiri. Muaka aku melihat anak sekolah yang kerjaannya nongkrong, bolos, merokok, tawuran, main gadget tiada kenal waktu. Ingin kutampari mereka semua. Mau jadi apa negeri ini kelak jika penerusnya seperti itu? Sedangkan orang-orang pendatang, mereka datang dengan segenap kekuatan penuh, melibas mereka yang tidak bisa mengikuti zaman. Oalah Gusti... kenapa tak kau musnahkan saja mereka ini?

Ketika pemerintahan sudah tak dapat terselamatkan, siapa yang peduli? Ketika Eksekutif, yudikatif dan legislatif sudah ditunggangi mereka yang gemar bagi-bagi korupsi, berjamaah pula. Hanya media yang mampu menyetir. Namun negriku ini istimewa Gusti, media tak lagi jujur. Mereka menadah koin-koin receh dari pemerintahan. Menerima pesanan berita setingan, berita busuk yang aku yakin kau tak akan sudi menciumnya. Sudahlah Gusti, tunggu apa lagi? Hancurkan saja negriku, toh memang sudah hancur, lalu kita menunggu apa? menunggu mereka sendiri yang meratakannya? Ah terlalu lama itu Gusti.


***

Jauh di pedalaman negeri, ketika padi tak mampu menyediakan nasi. Lumbung-lumbung sepi, dapur pun tak mengepul. Laki-laki menjadi pemalas, takut terik dan gemar meringkuk dalam sarungnya, maka inilah jelas pertanda kehancuran. Ibu, Ibu, Ibu.. sekali lagi Ibu.. mereka harus turun tangan membantu mencukupi kebutuhan rumah tangganya. Memastikan anak-anaknya tetap kenyang dan otak mereka bekerja dengan baik untuk belajar. Persetan dengan suaminya, mungkin dalam hati mereka pun akan menyumpahi mati saja kau suamiku. Dan laki-laki seperti ini memang seharusnya di eliminasi dari negeri ini, mereka perusak paling alami.

Anak-anak, tak lagi mendapatkan hak nya secara penuh. Tak lagi mendapatkan didikan yang baik secara penuh oleh Ibu mereka, bukan apa-apa, karena waktunya tersita untuk mengurusi remeh temeh, urusan dapur dan dompet. Anak-anak menjadi kurang kasih sayang, kurang didikan, kurang motivasi, bahkan terburuk adalah meniru ayahnya. Ini belumlah separah yang akan kuceritakan pada bait selanjutnya.

Indonesia terkenal akan ekspornya, sayangnya ekspor disini adalah ekspor manusia, ya..buruh-buruh rumah tangga berpendidikan rendah. Nekat berangkat dari kampung, berharap nasib yang lebih baik untuk keluarga mereka. Rumah bagus, motor bagus, sawah ladang yang luas. Tapi mereka kehilangan harta yang sesungguhnya, anak mereka. Sedangkan sang suami leha-leha menyeruput kopi menghisap rokok, tidur nyenyak di kasur empuk. Cukuplah sang anak diberi lembaran pak karno untuk jajan sesukanya. Tanpa peduli akan dipakai untuk apa uang itu, tanpa peduli mereka juga butuh kasih sayang. Bahkan sedikit sekali ayah yang peduli anaknya sekolah atau tidak. Sampai akhirnya menghasilkan beribu bahkan berjuta pemuda generasi otak rendah. Gampang dibodohi, gampang ditipu, gampang diperdayai dan dipermainkan oleh mereka yang cerdas, sampai akhirnya mereka menjadi keset di negeri sendiri.

Rumah dan ladang yang dicari bertahun tahun akhirnya hilang juga, tergusur proyek mereka yang cerdas. Otak sudah hilang, harta pun habis. Percuma dan kesia-sia an upaya yang telah dilakukan si Ibu. Hanya menyesal meratapi nasib. 

***

Kenapa sih tidak ada yang membuka mata?
Kenapa sih tidak ada yang Peka?
Kenapa untuk masuk ke perusahaan seleksinya ketat, sedangkan untuk menjadi guru ecek-ecek.
Kenapa sih guru yang bagus harus melewati tahap pns kalau nyatanya pns sendiri sebagai ladang korupsi
Kenapa sih mereka yang benar-benar berdedikasi untuk negeri justru tak menerima imbal yang patut

Ibu..dan Guru.. 
Mereka adalah mesin pencetak generasi hebat, tolong perhatikan baik-baik kualitas mereka
jangan sampai kesalahan akan terus berlanjut dan tinggal menunggu waktu untuk kita menjadi keset sejati

Ayupria